Risk Based Thinking Pada ISO 9001:2015

Konsultan ISO 9001 2015

Risk Based Thinking adalah suatu pendekataan yang baru pada ISO 9001:2015 DIS

apa dan bagaiamana Risk Based Thinking Tersebut

  • Risk Based Thinking  adalah sesuatu yang kita  lakukan secara otomatis dan sering tidak sadar
  • Konsep risiko selalu tersirat dalam ISO 9001 – yang pada revisi ISO 9001: 2015 dibuat lebih eksplisit dan untuk membangun  sistem manajemen keseluruhan
  • Risk Based Thinking membuat tindakan preventif bagian dari rutinitas
  • Risiko sering dianggap hanya dalam arti negatif. Risk Based Thinking  juga dapat membantu untuk mengidentifikasi peluang. Hal ini dapat dianggap sebagai sisi positif dari risiko.

Tujuan Risk Based Thinking

  1. Untuk meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan
  2. Untuk menjamin konsistensi kualitas barang dan jasa
  3. Untuk membangun budaya proaktif dalam pencegahan

Bagaimana langkah dalam menerapkan Risk Based Thinking

  1. Identifikasi Resiko pada Semua proses yang ada
  2. a. Lihat Masing Masing Proses di dalam Organisasi

    b. Buat dalam bentuk diagram Proses Approachment

    c. Tentukan Resiko pada masing masing Proses sehingga bisa diidentifikasi

Risk Based Thinking Model ISO 9001 2015

   3. Buat Tingkat / Prioritas dari masing masing Resiko

Risk Based Thinking ISO 9001 2015

4. Buat Rencana Mitigasi/ Cara menanggulangi Resiko

5. Lakukan Tindakan Mitigasi / Perbaikan

6. Monitor dan Evaluasi Hasilnya

7. Standardkan/ Belajar dari kesalahan – Improvement

Demikian sedikit mengenai Risk Based Thinking ISO 9001:2015, mudah mudahan bermanfaat, Training mengenai ISO 9001:2015 hubungi kami di HP 0812 10 9 10 329, email : budi_wibowo_bb@yahoo.com

2 respons untuk ‘Risk Based Thinking Pada ISO 9001:2015

  1. Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya sampaikan:
    1. Bagaimana penjelasannya, jika perusahaan diminta untuk membuat analisa resiko per proses, apakah
    mulai dari proses terkecil harus di perinci sendiri-sendiri, atau secara proses garis besarnya? contoh:
    dibagian Purchasing–> secara proses besarnya melakukan pembelian. nah identifikasinya apakah
    harus di identifikasi:
    1. perencanaan pembelian
    2. pelaksanaan pembelian
    3.laporan pembelian
    2. Jika sebuah perusahaan sudah menetapkan dalam proses pembuatan analisa resiko dengan
    menggunakan skoring, apakah untuk analisa resiko yang ditingkat manajemen (SWOT) juga harus
    menggunakan skoring?

    • Analisa per proses sebenarnya belum diminta oleh persyaratan ISO 9001 2015, yang diutamakan adalah analisa risiko dari conteks organisasi dan interested party, namun demikian kalau ada yg meminta bisa dibuat per proses, step by step mengikuti alur proses, untuk SWOT tidak perlu menggunakan skoring, SWOT dipakai untuk memudahkan membedakan mana yang Risk mana yg Opportunity, keberimbangan antara Risk dan Opportunity ini yang perlu diperhatikan, karena sebenarnya ISO 9001 2015 tidak hanya mengatur mengenai analisa resiko namun juga mengenai peluang atau opportunity, semoga membantu.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.